Di Ujung Pelaminan, Kasih Tak Sampai

Air matanya tidak berhenti mengalir membasahi kedua pipinya. Para perias angkat tangan, tak mampu melanjutkan pekerjaannya. Wajah cantiknya menjadi seram, dipenuhi riasan yang luntur. Ibunya sudah membentaknya berkali-kali, tetapi wanita itu tidak mampu menghentikan deraian air matanya. Ia tidak ingin menangis, tetapi tidak dengan kedua matanya. Mungkin ada yang salah. Bergegas wanita itu bangkit. Kembali para perias yang sibuk menata rambutnya terkejut.
“Mau kemana Gek? Tolong duduklah sebentar lagi,” pinta perias itu.
“Aku harus ke dokter mata, ada yang salah dengan mataku. Mereka tak berhenti mengeluarkan air,” jelas wanita itu.
“Duduk!” perintah ibunya. “Gek Ratih Putri Ambara,” kata ibunya memanggil dia dengan nama lengkapnya, “Kamu hari ini menikah, tenanglah. Selesaikan riasanmu dan kita melaksanakan upacara. Ibu lelah, Gek. Tolong untuk hari ini saja menurutlah,” bujuk ibunya.
Gek Ambar kembali duduk. Perias bergerak cepat menyelesaikan tata rambutnya, membersihkan sisa riasan di wajah Gek Ambar, dan hanya menambahkan lipstik pada bibir mungilnya, yang penuh luka saking seringnya Gek Ambar menggigit bibirnya sendiri bila gelisah melandanya. Kain dan selendang sudah dililit pada tubuh Gek Ambar yang tak lagi semampai. Perutnya telah membulat, hasil perbuatannya sendiri yang tidak mampu menjaga kehormatannya.
Gek Ambar dituntun menuju ke tempat upacara. Seharusnya hari ini Gek Ambar tersenyum bahagia di pelaminan dengan kekasih pujaan hatinya. Gek Ambar adalah anak tunggal, kekasihnya pun anak tunggal. Keduanya dilarang untuk meninggalkan rumah orang tua masing-masing. Bagaimana mungkin pernikahan terjadi? Bagi adat mereka jika menikah hanya bisa tinggal disalah satu rumah orang tua mereka (pihak laki atau wanita). Dan pada umumnya akan tinggal dan menetap di rumah mempelai laki-laki. Sangat jarang terjadi mempelai laki-laki yang tingggal di rumah mempelai wanita.
Berkali-kali Gek Ambar menjelaskan bahwa, ia tidak akan mengabaikan orang tuanya meskipun menikah dan tinggal di rumah suaminya. Apapun kewajibannya sebagai anak akan tetap dilakukannya. Dia bersimpuh mencium kedua kaki orang tuanya, memohon agar diijinkan menikah.
Dia malu pada dirinya sendiri, terlanjur telah berbadan dua. Dia tidak sanggup melanjutkan untuk bekerja dan sangat tertekan mendengar gunjingan tetangga. Dan dia sangat mencintai kekasihnya. Akibat tidak mendapat restu orang tuanya, kekasihnya itupun membencinya dan meninggalkannya. Menambah luka dan kecewa di hatinya. Jika saja, ia berani mungkin dia sudah bunuh diri. Dia bukan takut mati, hanya saja dia takut arwahnya menjadi hantu hamil yang gentayangan.
Akhirnya karena keegoisan kedua orang tuanya, Gek Ambar menikah dengan sebilah keris sesuai adat istiadat yang dipercayai oleh kedua orangtuanya. Apa katanya nanti pada anaknya? Ibunya meminta agar upacara adat ini berlangsung cepat sebelum Gek Ambar berubah pikiran kembali. Dengan air mata berlinang, Gek Ambar melangsungkan upacara adat pernikahannya. Saat semua dengan penuh khidmat mengikuti berlangsungnya upacara adat tersebut, Gek Ambar menghunus keris tersebut dan tertawa keras. “Oh, Tuhan, cobaan apalagi ini?” batin Ibunya. Semua mata memandang Gek Ambar, tidak ada yang berani mendekat, sementara Gek Ambar terkekeh-kekeh mengacungkan kerisnya keatas dan kearah orang- orang. Tak luput semua pun lari tunggang langgang.
“Gek letakkan kerisnya, Ibu mohon. Gek Ambar anak baik kan? Kita ke kamar ya,” bujuk ibunya dan memberi kode pada beberapa orang yang ada agar segera memeganginya. “Gek, lihat Ibu. Ayo sayang.” Disaat lengah, gek Ambar berhasil dipegang, dan keris itupun direbut. Terpaksa Gek Ambar dibopong ke kamarnya. Upacara tersebut pun dengan singkat berakhir dan selesai. Para kerabat dan tetangga kembali ke rumah masing-masing.
“Kasihan ya anaknya gila,” bisik para tetangga yang terdengar oleh ibunya.
“Gara-gara ibunya sih, enggak ngasi anaknya nikah. Gitu jadinya,” mereka saling menimpali.
“Ih, kasian sekali. Pdahal sudah jadi manager hotel,” saut tetangga lainnya.
***
“Buka pintunya, Bu, Ayah, buka, cepat buka!!!” teriak Gek Ambar dari dalam kamarnya sembari memukul-mukul dan menenang- nendang pintu kamarnya. Tidak seorang pun yang berani membukakannya pintu. Ibu dan Ayahnya, dibantu kerabat dekat yang masih belum pulang, membersihkan dan merapikan sisa-sisa upacara. Ibunya terduduk lemas, ikut menangis. Menyesali keputusannya. Meratapi anak satu-satunya. Anak kebanggaan satu-satunya.
Gek Ambar sejak kecil sudah lincah, ceria dan menyenangkan banyak orang. Selalu juara dan mendapatkan beasiswa. Sangat suka menari dan jika menari bak bidadari turun dari kayangan. Badannya meliuk-liuk indah dan gemulai. Siapapun terpukau melihatnya. Anak yang serba bisa. Tidak perlu waktu lama, dia berhasil menjadi seorang manager. Hanya saja sebagai orang tua, mereka tidak awas pada siapa kekasih putri tercintanya.
Hingga kekasih Gek Ambar datang dan mengatakan dengan berani bahwa akan melamar putri mereka. Lalu Gek Ambar pun berkata bahwa dia telah berbadan dua. Seketika itupun, hati orang tuanya hancur. Ayahnya jatuh sakit, untung saja hanya mendapat serangan jantung ringan. Hanya ibunyalah yang berusaha untuk tetap kuat dan tegar. Telinga ibunya sudah kebas, tebal, atas apapun gunjingan tetangga. Hanya satu yang membuat hatinya terluka, kondisi mental Gek Ambar. Ibunya bersikeras bahwa anaknya tidak gila, bahwa anaknya baik-baik saja, hanya menderita depresi. Ibunya menolak membawa Gek Ambar ke Psikiater. Dia bersikukuh bahwa sebentar lagi anaknya pasti kembali dan berani menerima kenyataan.
Pintu baru dibuka, setelah tak ada suara lagi dari dalam kamar. Tampak Gek Ambar tersungkur di lantai, mungkin kelelahan. Dibantu Ayahnya, Ibu memindahkan Gek Ambar keranjang dan melepas riasan rambut dan pakaiannya. Membelai rambutnya, “Gek, kamu harus kuat demi anakmu. Kamu harus tabah, masih ada kami Ayah dan Ibu yang selalu menjagamu. Sadar anakku,” nasehat ibunya. Air mata ibunya menetes ke kepala Gek Ambar. Tetesan air mata itu seolah menyadarkan Gek Ambar dan memberinya kekuatan. Kebenciannya pada ibunya lah yang membuat nya seperti sekarang, berusaha lari dari kenyataan dan membuat ibunya lebih menderita.
Gek Ambar membuka matanya, “Ibu!” serunya bangkit dan menghapus air mata ibunya. Anak dan Ibu itu pun berpelukan dan bertangis-tangisan. “Nak, maafkan Ibu. Membuatmu seperti ini, ketahuilah ini semua karena Ibu sayang padamu. Jangan siksa Ibu lagi nak, jika Ibu tidak kuat menghadapimu? Bagaimana dengan Ayahmu? Kamu tidak ingin kehilangan kami juga kan?” ucap ibunya. Mereka kembali berpelukan. Ayahnya kembali masuk kekamar dan ikut memeluknya. “Maafkan Ayah juga Gek, tidak mampu menjadi Ayah yang kuat dan perkasa. Ayah lemah karena sudah tua dan sakit-sakitan. Ayah hanya ingin menua bersama putri Ayah satu-satunya.”
Air mata ibunya mampu membuat Gek Ambar tersadar dari kebenciannya yang mendalam, pada dirinya, pada orang tuanya dan pada kekasihnya yang tidak bertanggung jawab yang memilih pergi meninggalkannya, tanpa usaha, tanpa penyelesaian apapun. Gek Ambar merasa bodoh, ingin membalas dendam pada orang tua yang telah menyayangi nya sejak lahir. Bukankah dia yang mencoreng arang wajah orang tuanya?

Komentar
Posting Komentar